Oleh: rizarulham | Desember 26, 2009

Angkatan Sastra Indonesia

Karya sastra di Indonesia dapat ditelusuri jejaknya mulai dari jaman kerajaan, terutama kerajaan islam di sumatra. Pengaruh budaya melayu dan Islam sangat kuat terhadap munculnya karya sastra klasik saat itu, sehingga karya sastra yang muncul berbahasa melayu dan berhubungan dengan keagamaan. Karya Sastra pada masa itu berbentuk syair, hikayat, pantun, dan gurindam. Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdurrauf Singkil, dan Nuruddin Ar-Raniri adalah nama-nama penulis yang terkenal pada masa itu, yaitu sebelum abad ke-20, dan angkatan mereka dikenal dengan Pujangga Lama. Beberapa karya yang dihasilkan oleh Pujangga Lama diantaranya adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Syair Bidasari, Syarab Al-‘Asyiqin, dan masih banyak yang lainnya.

Angkatan berikutnya yang dikenal adalah Sastra Melayu Lama. Karya sastra yang termasuk ke dalam angkatan ini dihasilkan sekitar abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Seperti halnya karya sastra pada angkatan Pujangga Lama, karya sastra pada angkatan ini masih berbentuk syair, hikayat, pantun, dan gurindam. Karya sastra yang dihasilkan oleh angkatan ini diantaranya adalah Hikayat Siti Mariah, Nyai Dasima, dan masih banyak yang lainnya. Karya sastra lainnya yang ada pada masa angkatan ini adalah terjemahan novel dari barat, seperti Robinson Crusoe dan Around The World in 80 days.

Balai Pustaka merupakan transisi antara karya sastra lama yang berbentuk syair, pantun, hikayat, dan gurindam ke bentuk karya sastra yang baru, seperti prosa (roman, novel, cerita pendek, dan drama) dan puisi. Balai Pustaka didirikan oleh pemerintah kolonial untuk meredam karya angkatan Sastra Melayu Lama yang tidak disetujui pemerintah. Penulis yang termasuk angkatan Balai Pustaka adalah Nur Sutan Iskandar, Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, dan masih banyak penulis lainnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh mereka diantaranya adalah Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan lainnya.

Majalah Pujangga Baru terbit pertama kali pada tahun 1933 dan didirikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, ketiganya dianggap sebagai pelopor angkatan Pujangga Baru. Mereka mendirikan Pujangga Baru sebagai bentuk reaksi terhadap Balai Pustaka yang dikendalikan pemerintah kolonial yang melarang karya sastra tentang nasionalisme dan kebangsaan. Selain para pendiri majalah Pujangga Baru, penulis yang termasuk angkatan ini adalah Hamka, Sanusi Pane, Rustam Effendi, dan masih banyak penulis lainnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh angkatan Pujangga Baru diantaranya yang terkenal adalah Layar Terkembang, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Belenggu, dan banyak lainnya.

Angkatan ’45 merupakan angkatan yang lahir pada masa sebelum dan awal kemerdekaan, sehingga karya sastra angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan. Angkatan ini memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa mereka ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Penulis yang termasuk angkatan ’45 adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Idrus, Achdiat K. Mihardja, dan masih banyak penulis lainnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh angkatan ini diantaranya yang terkenal adalah Kerikil Tajam, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Atheis, dan banyak lainnya.

H.B. Jassin mendirikan majalah sastra Kisah dan hal ini yang menandai dimulainya masa angkatan ’50 – ‘60an. Anggota angkatan ini diantaranya adalah Pramoedya Ananta Toer, A.A. Navis, Nh. Dini, dan masih banyak penulis lainnya. Karya sastra mereka sebagian besar merupakan cerita pendek dan kumpulan puisi, seperti Robohnya Surau Kami, Balada Orang-orang Tercinta, dan lainnya. Pada awal tahun ‘60an, muncul suatu gerakan diantara para sastrawan yang berhaluan komunis yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan hal ini menyebabkan adanya perpecahan diantara para sastrawan pada saat itu.

Masa angkatan ’66 – ‘70an ditandai dengan terbitnya majalah Horison yang dipimpin oleh Mochtar Lubis. Selain Mochtar Lubis, sastrawan yang termasuk angkatan ini diantaranya adalah Umar Kayam, Taufik Ismail, Arifin C. Noer, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, dan masih banyak nama lainnya. Karya mereka diantaranya adalah Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Tirani dan Benteng, Bila Malam Bertambah Malam, dan lainnya.

Selanjutnya muncul angkatan ’80-‘90an yang ditandai dengan banyak dihasilkannya roman percintaan oleh sastrawan wanita, seperti Mira W. dan Marga T. dan juga tumbuhnya sastra yang beraliran pop yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya. Beberapa penulis yang termasuk angkatan ini diantaranya adalah Seno Gumira Ajidarma, Y.B. Mangunwijaya, Arswendo Atmowiloto, dan masih banyak penulis lainnya. Karya yang dihasilkan oleh angkatan ini diantaranya adalah Lupus, Burung-burung Manyar, Canting, dan lainnya.

Dilihat dari banyaknya angkatan sastra yang muncul, perkembangan sastra di Indonesia telah mengalami masa yang panjang mulai dari jaman kerajaan sampai saat ini. Bagi generasi saat ini mungkin sedikit sulit untuk mengetahui dan membaca karya-karya sastra lama karena sulit untuk mencarinya. Generasi saat ini lebih banyak membaca novel yang bercerita tentang percintaan remaja dan hal ini didukung oleh banyaknya novel seperti itu yang diterbitkan. Saya sendiri baru membaca sedikit dari karya sastra yang telah disebutkan, seperti Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jalan Menikung, dan Lebaran di Karet oleh Umar Kayam, Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana, dan Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis. Selain novel-novel tersebut, karya sastra lain yang pernah saya baca sebagian besar adalah cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan di Kompas dan dikumpulkan menjadi satu buku cerpen pilihan yang diterbitkan setahun sekali. Seharusnya penerbit buku mencetak kembali karya-karya sastra lama sehingga generasi saat ini dan yang akan datang mengetahui dan menghargai sastra Indonesia sebagai salah satu identitas bangsa ini.

Referensi :

http://id.wikipedia.org/

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: