Oleh: rizarulham | September 25, 2009

Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia baru diakui sebagai bahasa persatuan pada saat deklarasi sumpah pemuda 28 Oktober 1928 dan diakui secara yuridis pada 18 Agustus 1945 melalui UUD 1945. Tetapi menurut sejarah, Bahasa Indonesia merupakan varian dan pengembangan dari bahasa melayu yang telah dipakai sejak abad ke-7 tidak hanya di nusantara tapi juga hampir di seluruh asia tenggara. Bukti awal pemakaian istilah “Bahasa Melayu” adalah dengan ditemukannya beberapa prasasti di Palembang dan Bangka tertanggal tahun 683-688 M yang menggunakan bahasa melayu kuno dan ditulis dengan aksara pallawa. Berikutnya ditemukan prasasti trengganu tertanggal tahun 1303 yang berbahasa melayu klasik, dan perkembangan bahasa melayu sangat pesat karena digunakan dan disebarkan oleh para pedagang yang berada seluruh kawasan malaka dan juga karena perannya dalam penyebaran agama Islam di seluruh nusantara. Penggunaan, penyebaran, dan perkembangan bahasa melayu yang sangat pesat terutama disebabkan oleh kelenturan bahasa tersebut yang membuatnya mudah dimengerti dan ekspresif dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap kosakata dari bahasa lain terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.

Pada awal abad 20, bahasa melayu terpecah menjadi dua. Indonesia dibawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901, sedangkan Malaysia dibawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson pada tahun 1904. Ejaan Van Ophuijsen disusun oleh Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim pada 1896 dan resmi diakui pada tahun 1901. Ejaan tersebut memiliki ciri-ciri penggunaan “oe” seperti dalam “boekoe”, “j” seperti dalam “rakjat”, “dj” seperti dalam “djakarta”,  “tj” seperti dalam “tjara”, dan lainnya.

Kemudian setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia mengalami dua kali perubahan dalam ejaannya. Berikutnya adalah ejaan Republik, yang diresmikan pada 19 maret 1947 dan juga dikenal dengan ejaan Soewandi, menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Terdapat beberapa perubahan pada ejaan Republik dibanding ejaan sebelumnya, diantaranya adalah huruf “oe” diganti dengan huruf “u” seperti dalam “buku”, penggunaan angka 2 pada kata ulang seperti dalam “hati2”, dan lainnya. Perubahan terakhir terjadi pada 16 Agustus 1972 dengan diresmikannya ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, yang biasa disebut dengan EYD, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. Kembali terdapat beberapa perubahan, diantaranya adalah huruf  “j”, “dj”, “tj” diganti dengan huruf “y”, “j”, “c” seperti dalam “rakyat”, “jakarta”, “cara”, dan perubahan lainnya. Sebenarnya terdapat sebuah konsep ejaan lainnya yang dikenal pada tahun 1959, yaitu ejaan Melindo (Melayu Indonesia), tetapi tidak jadi diresmikan.

Terdapat beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Bahasa Indonesia. Seperti yang telah disebut sebelumnya, pada awal abad ke-20, diresmikan ejaan Van Ophuijsen. Pada tahun 1908, pemerintah kolonial mendirikan badan penerbit Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Layar Terkembang, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan lainnya, yang sangat berperan penting dalam perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Pada 16 Juni 1927, Jahja Datoek Kajo berpidato menggunakan Bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat), yang adalah pertama kalinya Bahasa Indonesia digunakan pada forum resmi. Selanjutnya pada kongres sumpah pemuda 28 Oktober 1928, Muhammad Yamin mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan tercantum dalam dekalarasi. Majalah sastra Poedjangga Baroe pertama kali diterbitkan di Jakarta pada 1933 dan didirikan oleh para sastrawan seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang sekarang dikenal sebagai angkatan pujangga baru. Pada 18 Agustus 1945, Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi negara berdasarkan pasal 36 UUD 1945. Kemudian pada 19 Maret 1947, ejaan Republik diresmikan menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Akhirnya pada 16 Agustus 1972, Presiden Republik Indonesia saat itu, H. M. Soeharto, meresmikan EYD melalui pidato kenegaraan dihadapan sidang DPR dan dikuatkan dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Selain berbagai peristiwa penting diatas, Kongres Bahasa Indonesia telah tujuh kali diselenggarakan dan menjadi ajang yang juga berperan dalam perkembangan Bahasa Indonesia paska kemerdekaan. Kongres-kongres tersebut dihadiri oleh pakar-pakar bahasa tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, seperti dari Australia, Belanda, India, Jepang, Amerika Serikat, dan juga negeri tetangga Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Seluruh kongres tersebut telah menghasilkan keputusan-keputusan penting dan juga merupakan suatu usaha untuk memperkuat kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di nusantara. Pada Kongres Bahasa Indonesia V tahun 1988, dipersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, yang masih tetap menjadi referensi sampai sekarang.

Pada tahun 1993, Kongres Bahasa Indonesia VI diselenggarakan di Jakarta dan menghasilkan usulan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia dan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia. Pada tahun 1998, Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di Hotel Indonesia, Jakarta, dan menghasilkan usulan agar dibentuk sebuah Badan Pertimbangan Bahasa.

Referensi :

1. http://id.wikipedia.org/

2. http://balaibahasabandung.web.id/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: