Oleh: rizarulham | Desember 24, 2009

Resensi Jalan Menikung

Umar Kayam adalah salah satu sastrawan terkenal Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya, diantaranya novel Jalan Menikung. Novel ini merupakan bagian kedua dari novel Para Priyayi dan bercerita tentang kelanjutan kisah keluarga besar Sastrodarsono. Sebagian besar judul dari bab yang ada dalam Jalan Menikung diambil dari karakter-karakternya, bahkan yang bukan karakter utama sekalipun.

Novel ini dibuka dengan cerita mengenai salah satu karakter utamanya, yaitu Harimurti. Bab pertama menceritakan kisah Harimurti yang diberhentikan dari pekerjaannya karena masalah masa lalunya. Kemudian pada bab ini juga diceritakan tentang masa lalunya Harimurti yang ternyata pernah menjadi anggota Lekra dan HSI dan tentang perjodohannya dengan Sulistianingsih yang sekarang menjadi istrinya. Kemudian cerita berlanjut dengan kisah tentang Lantip yang adalah kakak angkat dari Harimurti. Sama dengan bab sebelumnya, bagian ini juga sedikit menceritakan tentang pernikahan Lantip dengan Halimah. Pada bab ketiga, selanjutnya diceritakan tentang Eko, anak dari Harimurti-Sulistianingsih, yang tinggal di Amerika dengan satu keluarga Yahudi dan menjalin hubungan dengan Claire, anak perempuan tunggal di keluarga itu, selain itu juga diceritakan tentang masalah Eko yang tidak diperbolehkan untuk sementara pulang ke Indonesia oleh bapaknya yang merasa masalah masa lalu yang sekarang diungkit-ungkit lagi oleh pemerintah dapat menyulitkan Eko.

Karakter lainnya yang diceritakan di novel ini adalah Tommi, sepupu dari Harimurti; Endang, pacar gelap Tommi; Alan Bernstein, atasan Eko di Asia Books; Anna, anak bungsu Tommi. Cerita tentang Tommi lebih berfokus pada rencana pemugaran makam keluarga besar Sastrodarsono yang diprakarsai olehnya. Kemudian cerita berlanjut ke penjelasan tentang Endang, yang sebenarnya bukan termasuk karakter utama di novel ini, dan bagaimana hubungannya dengan Tommi bermula. Karakter lainnya yang diceritakan khusus dalam satu bab adalah Alan Bernstein dan bercerita tentang masa lalu Alan dan juga hubungan Alan-Eko yang seperti kakak-adik. Cerita tentang Anna lebih berfokus pada hubungannya dengan Boy, anak dari rekan bisnis ayahnya, tetapi ditentang oleh ayahnya karena Boy keturunan Cina.

Menurut saya, novel ini sangat menarik karena menceritakan tentang beragam karakter yang mempunyai beragam sifat dan hubungan antar karakternya. Tidak seperti penulis sekarang yang pemakaian bahasa Inggris dominan dalam novelnya, Umar Kayam tetap memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dominan dan bahkan ada sedikit bahasa Jawa dalam novelnya, walaupun ada sedikit kalimat dalam bahasa Inggris juga. Hal lainnya yang terlihat dari novel ini adalah adanya cerita tentang masa lalu karakternya yang membuat pembaca bisa lebih memahami tentang karakter tersebut. Selain itu hal yang juga membuat novel ini menyenangkan untuk dibaca adalah ceritanya yang ringan, tetapi penuh makna dari awal sampai akhir novel.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: